Gelisah. Kita begitu sulit menampik keberadaannya. Ia selalu menjadi misteri yang tau-tau muncul dalam keseharian kita atau kalau dalam bahasa jawa ujug-ujug. Gelisah adalah perasaan tidak tenang, kurang tentram, khawatir. Kemunculannya seringkali membuat kita enggan untuk menemuinya. Biasanya kemunculannya berawal dari sebuah kekosongan. Kekosongan aktifitas, pikiran, atau bahkan hati.
Kegelisahan terjadi karena kita cemas dengan apa yang kita lakukan di masa lalu ataupun kegelisahan kita menerka masa depan. Hal itu biasanya terjadi karena kita tidak bisa menikmati keindahan masa kini, mensyukuri setiap nikmat yang kita rasakan. Kita lebih peduli dengan kemisteriusan hasil. Toh manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang telah didapat. Karena menunggu hasil adalah menunggu penyesalan, yang berarti menunggu kekecewaan.
Kita seringkali lebih peduli untuk memperbaiki penyesalan dibanding menyadari yang kita lakukan sekarang-kini (mindfulness). Kuncinya adalah hadir dan sadar. Ketika kita bersama teman terkadang kita tidak hadir di sana dan seringkali begitu. Ketidakhadiran kita adalah gerbang kegelisahan. Kita terus saja berfikir sesuatu yang tidak kita lakukan sekarang-kini. Memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi atau ber-angan sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu.
Itulah yang kemudian membuat kita gusar-bosan. Kebosanan yang kita ciptakan sendiri. Memikirkan tentang masa depan ataupun masa lalu haruslah dengan sadar. Sadar kalau kita sedang berfikir, bukan malah hanyut dalam angan-angan itu. Kurangi berandai-andai. Sesuatu yang telah terjadi tidak akan bisa berganti. Cukup menjadi sebuah pelajaran untuk mulai mengarungi masa sekarang-kini. Cukup lakukan yang terbaik untuk sekarang-kini. Tak perlu terlalu berlebihan memikirkan masa lalu ataupun masa depan.
Bernafaslah dengan sadar, rasakan setiap udara yang dihisap dan dihembuskan. Sesekali lakukan satu hal saja tanpa melakukan yang lain, sesekali tanpa multi tasking. Makanlah tanpa mendengarkan musik, minumlah tanpa menggenggam gadget.
Kita seringkali lebih peduli untuk memperbaiki penyesalan dibanding menyadari yang kita lakukan sekarang-kini (mindfulness). Kuncinya adalah hadir dan sadar. Ketika kita bersama teman terkadang kita tidak hadir di sana dan seringkali begitu. Ketidakhadiran kita adalah gerbang kegelisahan. Kita terus saja berfikir sesuatu yang tidak kita lakukan sekarang-kini. Memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi atau ber-angan sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu.
Itulah yang kemudian membuat kita gusar-bosan. Kebosanan yang kita ciptakan sendiri. Memikirkan tentang masa depan ataupun masa lalu haruslah dengan sadar. Sadar kalau kita sedang berfikir, bukan malah hanyut dalam angan-angan itu. Kurangi berandai-andai. Sesuatu yang telah terjadi tidak akan bisa berganti. Cukup menjadi sebuah pelajaran untuk mulai mengarungi masa sekarang-kini. Cukup lakukan yang terbaik untuk sekarang-kini. Tak perlu terlalu berlebihan memikirkan masa lalu ataupun masa depan.
Bernafaslah dengan sadar, rasakan setiap udara yang dihisap dan dihembuskan. Sesekali lakukan satu hal saja tanpa melakukan yang lain, sesekali tanpa multi tasking. Makanlah tanpa mendengarkan musik, minumlah tanpa menggenggam gadget.
