Selasa, 15 Maret 2016

Bola Mata

Aku bingung harus bagaimana memulai tulsan ini, entahlah. Harus dimulai dari mana. Lembaran demi lembaran kisah dalam memori  mulai ku korek satu per-satu. Tapi sudahlah toh kenapa kita harus mengorek sejarah yang kata Dee[1] adalah seperti awan yang tampak padat berisi tetapi ketika disentuh menjadi embun. Aku mulai berhenti mengetik, yaa karena aku melihat ada kata ganjil dalam tulisanku itu. Kata “Aq” aku yang ditulis Aq yang seharusnya aku tulis “Aku”, tanpa panjang lebar Aqpun, eh aku mengganti kata yang biasa aku tulis lewat telepon pintar. Ya itu mungkin akibat kehidupan yang lebih menarik di dunia yang tidak nyata yang menawarkan sesuatu yang tidak bisa kita miliki seutuhnya. Ya sesuatu yang kemudian hanya bisa kita angankan, dunia maya.
Tidak tau kenapa keinginanku untuk menulis pagi itu sangat besar. Entahlah, yang pasti aku ingin kata perkata yang keluar takkan pernah putus layaknya harapanku untuk menemukan seseorang yang belum pernah nyata itu terwujud. Yaa aku hanyalah seorang mahasiswa semester dua belas yang terus saja mencari pembenaran untuk terus mengulur-ulur waktu kelulusannya.
Pagi itu, ketika raga ini merasakan kehadirannya kembali merasa bahwa aku masih bisa merasakan ketegangan tubuh keseluruhannya. Molet pun tak pernah absen dari rutinitas yang hampir aku ulang-ulang setiap hari selama hampir duapuluh lima tahun. Berarti sudah 9000 kali aku melakukan rutinitas itu. Ya itupun belum ditambah molet-molet ketika tidur siang. Anggap saja sepuluh ribu biar genap.
Rutinitas yang seharusnya bisa ku lewatkan dengan ringan dan harusnya di luar kepala, tapi lagi-lagi tubuh ini seperti tidak mau mengingat bagaimana ia harus cepat bergegas meninggalkan alas empuknya, dan mulai berjalan mengambil air dan segera  menjalankan rutinitas sebagai manusia yang ber-Tuhan.
Pagi itu aku sadar bahwa ada bola yang sangat berat, iyaa sangat berat sampai kita tidak kuat mengangkatnya langsung. Perlu latihan bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk bisa mengangkatnya dengan mudah. Bak seorang atlet angkat besi yang mengangkat bebannya dan harus terus mencoba, karena harus mengumpulkan seluruh tenaga luar dalamnya dan mulai mengangkatnya pelan. Kedua bola mata ini kedengarannya lebih ringan dibandingkan beban atlet tersebut tapi tidak pada kenyataannya. Dan tak seorangpun yang bisa menyanggahnya.
Kupaksa bola mata itu untuk mulai menyambut matahari dan merasakan dinginnya air yang ku ambil ketika mulai bergegas ke kamar mandi yang tidak begitu jauh dari kamar kosku. Hari itu rasanya begitu berbeda dari hari-hari biasanya. Hari yang penuh dengan harapan, harapan untuk menjadi manusia seutuhnya (being human), manusia yang dilahirkan tidak hanya untuk melakukan rutinitas mengangkat besi setiap pagi. Manusia yang berbeda seperti dua puluh empat tahun sebelumnya. Manusia yang begitu apatis dengan kebutuhan tubuhnya, kebutuhan untuk menikmati dan mensyukuri nikmat tak terhingga dari Tuhannya. Manusia yang harusnya mencintai Tuhan dan seluruh ciptaanNya.
Hingga pada satu titik ketika harapan itu mulai menunjukkan porosnya ketika ia memulai dengan kata per-kata, kalimat per-kalimat dan paragraf per-paragraf. Ya pagi itu menjadi saksi bangkitnya seorang yang telah mendambakan genggaman seorang yang ada dalam angannya. Seorang yang hampir dua puluh lima tahun dicarinya. Ya hari ini adalah awan yang menjadi embun itu.






[1]Seorang penulis yang sebelumnya adalah seorang penyanyi, pencipta novel Supernova yang menggetarkan dunia sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar