Berawal dari sebuah harapan, harapan untuk kembali pada tujuan. Tujuan hidup yang selama ini lenyap, lenyap dilahap oleh dunia yang menawarkan angan, menawarkan segala sesuatunya dengan instan, menawarkan hiburan yang tak pernah bisa membosankan. Dunia digital hari ini memang membuat orang menjadi klepekan dan lupa dengan kebahagiaan kehadiran, kehadiran alam semesta dan para tuannya.
Hari itu cerah dan menyengat, biasanya becek dan basah. Mengosongkan jok belakang dan mulai bergegas dengan tujuan lari dari basah, basahnya guyuran hujan yang setiap hari membekas, becek. Apa daya mesin buatan orang tak mampu mengalahkan datangnya hujan padahal langit siang itu tak menunjukkan tanda sedikitpun, begitu cerah dan menawan. Apa boleh buat kemeja biru laut yang kupakai menjadi basah.
Tak lama kemudian tiba di suatu tempat sederhana walau sempit tapi masih cukup untuk berteduh menghindari keroyokan air yang tak hentinya menyerang. Dan mulai menunggu. Tak lama hujan tak lagi keroyokan dan akhirnya memutuskan untuk berhenti perang. Hujan kadang memang menyebalkan tapi bagi sebagian orang hujan adalah anugerah nyata dari Tuhan.
Dan bergegas lagi, dan lagi-lagi hujan. Kali ini aku memilih untuk mengabaikannya. Walaupun sempat terlintas penyesalan ketika tadi lebih memilih berteduh dan harusnya sekarang sudah bisa sampai tujuan. Begitulah kita, terkadang memang lebih memilih diam ketimbang bergegas melawan rintangan. Toh sesulit apapun kita melewatinya pada akhirnya kita semakin mendekat pada tujuan. Begitulah Tuhan membuat alur.
Sampai di tempat tujuan. Mulai mencari tempat ideal bertemu Tuhan melalui perantara orang yang tidak diragukan lagi kesalehannya. Bukan berarti Tuhan tak mengabulkan doa orang seperti kita. Bukan berarti juga kita meminta kepada mereka yang telah mendahului kita. Mereka hanyalah perantara (wasilah) karena kita tahu bahwa kita tak begitu dekat dengan Sang Pencipta.
Berziarah adalah salah satu cara berdialog dengan-Nya sekaligus cara ampuh untuk mengingat-Nya. Mengingat kematian yang sewaktu-waktu bisa menghampiri nyawa kita. Seseorang yang mungkin lupa keberadaanya di dunia hanya sementara. Hanya mampir untuk seteguk air saja.
Seseorang selalu punya cara masing-masing untuk bisa kembali pulang. Pulang ke rumah yang bernama tujuan. Tujuan hidup yang seringkali terabaikan oleh keadaan. Keadaan yang memaksa seseorang untuk terus terlelap.
Selamat, kamu kembali pulang...
Apa yang membuat kalian pulang?
Apa yang membuat kalian pulang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar