Bangsa Indonesia sejak lama sudah terkenal dengan bangsa yang religius, bangsa yang sangat taat dengan ritual-ritual keagamaannya. Bangsa dengan Ke-Tuhanan Yang Maha Esanya. Kereligiusan masyarakatnya jelas tidak bisa diragukan lagi, Terbukti dengan selalu penuh dan sesaknya masjid-masjid ketika shalat jum'at tiba, jamaah haji yang terus menumpuk setiap tahunnya hingga harus menunggu bertahun-tahun lamanya untuk bisa menunaikan rukun yang ke-limanya itu.
Tapi sekilas agama sepertinya hanya menjadi rutinitas formal di lingkungan kita. Betapa tidak, melihat begitu besarnya ghirrah dalam melakukan ibadah tapi belum diimbangi dengan spiritual yang mumpuni. korupsi di mana-mana, maksiat di mana-mana, penipuan merajalela dan banyak lagi yang lainnya. Hal itu menunjukkan spirit beragama hanya diperuntukkan sebagai penggugur kewajiban saja. Sepertinya mereka lupa, agama bukanlah aplikasi dari hablun minallah tapi lebih dari itu agama sebagai jawaban dari setiap pertanyaan yang ada di benak makhluk-Nya. Hablun minannas serta hablun minal 'alam nampaknya hanya menjadi slogan tak bernyawa.
Tak heran Nabi kita SAW diutus selain untuk menyampaikan firman-firmanNya tapi lebih dari itu Nabi mempunyai tugas berat untuk menyempurnakan akhlak. Sosok yang harusnya menjadi panutan dan idola bagi seluruh umat-umatnya. Bukan malah menganut mereka yang hanya mencari eksistensi. Mereka lupa, kita lupa tugas yang dibebankan kepada manusia, khalifatullah fil ardh.
Agama seperti terbelah menjadi dua, sisi pertama merupakan inti dari agama itu sendiri terletak sangat dalam tidak nampak, seperti hati pada manusia, spiritualitas. Sedangkan yang kedua merupakan tampilan yang terletak di bagian paling luar, religiusitas, sesuatu yang hanya terlihat. Keduanya sebenarnya harus menjadi satu kesatuan yang harusnya bisa beriringan, berdampingan.
Berperilaku baik saja tidak cukup, begitu sebaliknya. Ritual keagamaan yang terus dilakukan akan menjadi percuma ketika tidak dibarengi dengan perbuatan baik kepada sesama, alam dan makhluk lainnya. Karena perbuatan tercela akan menghapus pahala. Menghapus ritual agama yang susah payah kita kerjakan.
Semoga kita menjadi manusia yang senantiasa dekat dengan Tuhan, tanpa melupakan senyum kepada orang di sekeliling kita. Semoga!
terinspirasi dari tulisan K.H. Salahuddin Wahid, Berguru pada Realitas. Semoga Bermanfaat. Wallahu a'lam
Agama seperti terbelah menjadi dua, sisi pertama merupakan inti dari agama itu sendiri terletak sangat dalam tidak nampak, seperti hati pada manusia, spiritualitas. Sedangkan yang kedua merupakan tampilan yang terletak di bagian paling luar, religiusitas, sesuatu yang hanya terlihat. Keduanya sebenarnya harus menjadi satu kesatuan yang harusnya bisa beriringan, berdampingan.
Berperilaku baik saja tidak cukup, begitu sebaliknya. Ritual keagamaan yang terus dilakukan akan menjadi percuma ketika tidak dibarengi dengan perbuatan baik kepada sesama, alam dan makhluk lainnya. Karena perbuatan tercela akan menghapus pahala. Menghapus ritual agama yang susah payah kita kerjakan.
Semoga kita menjadi manusia yang senantiasa dekat dengan Tuhan, tanpa melupakan senyum kepada orang di sekeliling kita. Semoga!
terinspirasi dari tulisan K.H. Salahuddin Wahid, Berguru pada Realitas. Semoga Bermanfaat. Wallahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar