Selasa, 28 Maret 2017

Bukankah kita hanya manusia?

Menjadi diri sendiri bukanlah hal yang mudah. Bahwa kita bertindak sesuai dengan yang diinginkan/difikirkan, masih mungkin. Tapi bagaimana mungkin tindakan maupun pikiran kita tidak terpengaruh dengan hal-hal di luar dari diri kita, hampir mustahil. Tapi yang paling tidak pantas adalah bertindak dengan mempertimbangkan balasan, atau bahkan membalas tindakan dengan pertimbangan orang lain pernah memberikan "sesuatu" kepada kita.

Seringkali kita memberikan "sesuatu" kepada orang lain dengan mempertanyakan dahulu siapa yang akan kita beri, dari mana ia berasal atau bahkan berpikir tentang keuntungan apa yang akan kita peroleh darinya.

Memberilah tanpa mengharap
Mengharaplah tanpa meminta
Memintalah tanpa memaksa

Bahwa Tuhanlah yang Maha Segalanya

Rabu, 22 Februari 2017

Tak perlu takut, jalanmu telah ditulis...
Hanya saja kita tak tau kapan dan bagaimana...

Tak perlu terburu-buru...
Manusia terkadang terlalu cepat menilai....

Cukup melangkah...
Dan kita akan tahu...
Tuhanlah yang punya ketetapan itu...

Sabtu, 04 Februari 2017

Akhlak

Kondisi semakin memburuk belakangan ini, Indonesia kita tak lagi ramah. "Senggol bacok", persoalan sepele saja sekarang ini bisa menjadi sangat rumit, membuat rumit penegak dan pelaku hukum. Sebut saja beberapa kasus yang viral saat ini, Ahok sampai Habib Rizieq. Lagi-lagi bangsa kita lupa dengan nasehat-nasehat leluhurnya. Hari ini kita sedang di ajarkan cara berdemokrasi dengan term "benar/salah".

Memang hal itu tidak sepenuhnya salah, akan tetapi kalau kita lihat beberapa kasus yang ada, "hukum" menjadi sebuah senjata untuk menusuk lawannya. Persoalan kekuasaan, penghapusan jejak, dan sebagainya menjadi penyebabnya.

Produk-produk hukum kita memang masih dalam upaya perbaikan terus-menerus, memang masih banyak kelonggaran yang bisa dimanfaatkan beberapa oknum yang pintar mencari celah.

Tapi menurut hemat saya bukan itu masalahnya. Benar memang masih banyak kekurangan2an disana-sini.

Perilaku-lah yang seharusnya lebih ditekankan. Bukan lagi mencari cara untuk menjatuhkan musuh. Perilaku-perilaku leluhur kita yang pemaaf, nerimo ing pandum dll sepertinya sudah terlupakan. Tapi mau bagaimana lagi, kekuasaan memang membutakan. Semboyan Jokowi tentang revolusi mental sepertinya hanya menjadi penghias kampanye belaka. Bahkan hari ini kita mengalami kemunduran.

Agama kita, khususnya Islam sebenarnya sudah menjelaskan bagaimana seharusnya seseorang berbuat, berbicara ataupun bertindak. Agama yang terdiri dari akidah, syariah, dan akhlak sebenarnya sudah bisa menjawab bagaimana idealnya sesorang berlaku di dunia ini.

Agama memang mengajarkan tentang halal dan haram, tapi juga mengajarkan keyakinan, terpuji dan tercela, amar ma'ruf (memerintah dengan arif/bijaksana) dan sebagainya. Kita lupa dengan bangunan agama yang paling penting, yaitu akhlak. Tanpa akhlak hampir mustahil umat islam menjadi besar seperti saat ini. Nabi Muhammad tidak hanya menegaskan keasaan Tuhan, haramnya kedzaliman, akan tetapi Beliau mengutamakan akhlak baik dalam perilakunya maupun perkataannya.

Mari kita mulai dari diri kita,,,

Jumat, 28 Oktober 2016

Kurma Pembawa Petaka

Sebuah kisah tentang zuhud dan wara'nya seorang hamba Allah bernama Ibrahim bin Adham, suatu ketika setelah melaksanakan haji di tanah haram Ia akan melakukan perjalanan ke Masjid al-Aqsa di Palestina. Untuk bekal dalam perjalanannya Ia pun membeli satu kilo buah kurma dari pedagang tua di tanah haram tersebut.

Setelah kurma tersebut usai dibungkus dan akan dibawanya pergi, Ia pun melihat sebuah kurma yang jatuh di sekitar kios tempat Ia membeli kurma dan mengambil kurma tersebut lalu memakannnya karena ia mengira kurma tersebut jatuh dari bungkus miliknya. Ia pun kemudian pergi menuju Palestina.

Setelah empat bulan lamanya, Ia pun tiba di masjid al-Aqsa. Dan seperti sebelum-sebelumnya Ia memilih tempat yang biasa ditempatinya di bawah kubah. Lantas Ia berdoa dengan khusyu'. Tiba-tiba Ia pun mendengarkan percakapan dua malaikat yang sedang membicarakannya.

"Itu Ibrahim bin Adham, seorang zuhud dan wara', yang doanya selalu dikabulkan Allah", kata salah satu malaikat.

Satunya lagi menyahut, "Tapi sekarang tidak lagi, doanya tidak lagi diterima karena beberapa bulan lalu ia memakan sebuah kurma yang bukan miliknya."

Mendengar percakapan dua malaikat tersebut, Ibrahim pun terkejut dan menyadari bahwa selama empat bulan ini doa dan seluruh ibadahnya tidak diterima hanya karena memakan kurma yang bukan haknya. "Astaghfirullah," gumamnya.

Ia pun bergegas kembali ke Makkah meminta ke-halal-an kurma yang telah ia makan.

Sesampainya di sana, ia langsung menuju kios tempat penjual kurma yang pernah ia beli beberapa bulan yang lalu. Tapi di sana Ia hanya menemukan sosok pemuda yang menjual kurma. Kemudian Ibrahim bertanya, "Dimanakah kakek tua yang dulu menjual kurma?". Pemuda lalu menjawab, "Dia sudah meninggal satu bulan yang lalu".

"Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un", Ibrahim pun kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada pemuda penjual kurma. Lantas ia berkata, "Kepada siapakah saya harus meminta kehalalan kurma yang telah saya makan?". Pemuda menjawab, "Saya adalah ahli waris kakek tua tersebut, insyaallah saya halalkan dengan apa yang telah engkau makan. Akan tetapi ada sebelas ahli waris lagi, saya tidak bisa mengatasnamakan mereka karena mereka mempunya hak yang sama dengan saya sebagai ahli waris."

"Bolehkan saya meminta alamat saudara-saudaramu tersebut?, saya akan mendatanginya satu-persatu." pintanya. Ia pun mendatangi satu-persatu ahli waris dari kakek penjual kurma untuk meminta kehalalan kurma yang Ia makan.

Setelah mendapatkan kehalalan dari semua ahli waris kakek tersebut, Ia kemudian kembali ke Palestina. Dan di masjid al-Aqsa ia berdoa kepada Allah. Lagi-lagi ia mendengarkan percakapan dua malaikat.

"Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak karena makan kurma milik orang lain." Kata salah satu malaikat.

Satunya lagi berkata, "Sudah tidak lagi, sekarang doanya sudah dikabulkan oleh Allah SWT karena Ia telah mendapat penghalalan dari seluruh ahli waris penjual kurma tersebut. Sekarang pun ia telah suci dan bersih seperti sedia kala."

Maha Suci Allah, dari kisah tersebut setidaknya kita bisa mengambil sebuah pelajaran.

_______________________

Dewasa ini isu yang marak adalah PUNGLI. Banyak sekali oknum-oknum yang mengatasnamakan rakyat, para pekerja yang digaji uang rakyat, dan di tempat-tempat yang bertuhankan uang.

Halal sejatinya bukan hanya makanan yang dimakan, karena halal haruslah mencakup dua unsur yakni halal dzatnya dan halal cara memperolehnya.

Semoga kita tetap menuhankan Tuhan yang pantas di-Tuhan-kan. Aamiin.

Tebuireng, 28 oktober 2016.
Khutbah jum'at, Gus Fahmi Amrullah.

Selasa, 17 Mei 2016

Mengendalikan arus

Di era percepatan seperti sekarang ini, sesungguhnya banyak sekali celah-celah yang muncul. Entah sebagai kemanfaatan atau malah menjadi sebuah jurang yang curam. Tentu di era yang serba digital ini kita tidak lantas meninggalkan apa yang menjadi hal yang "kurang tren" atau kurang masa kini. 
المحُاَفَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَالِحِ وَالأَخْذُ باِلجَدِيْدِ الأَصْلَحِ
Merupakan kaidah yang cukup relevan untuk menjadi pijakan kita dalam melangkah kini. 

Keberadaan teknologi yang semakin tahun semakin canggih memaksa kita untuk terus menjadi seseorang yang modern. Mau tidak mau kita harus mengikuti arusnya tanpa hanyut dalam aliran yang deras itu. 

Hal itu tidak boleh dipandang sebelah mata. Kemanfaatan teknologi kini menjadi budaya yang dianggap hedon, bahkan seringkali menjadi sebab bagi datangnya kemadharatan. Hal seperti itu tidak lepas dari peng-agung-an teknologi secara berlebihan. Keberadaannya seringkali menjadi kambing hitam dari sebuah kesalahan yang terjadi. 

Penggunaan teknologi semacam itu semakin memperburuk citranya. Seperti kasus-kasus yang terjadi baru-baru ini juga melibatkannya, empat belas pemuda yang menyerupai hewan. 

Kita sebagai agen perubahan sekaligus objek perubahan harusnya bisa memposisikan diri. Bagaimana kemudian kita memperlakukan perubahan yang ada, bagaimana kita bisa mengendalikannya. 

Di zaman percepatan seperti sekarang ini tentu kitalah yang harus memegang kendali. Memanfaatkan teknologi serta mengaplikasikannya dalam hal kebaikan. Semoga kita dihindarkan dari kesesatan. Aamiin. 

Sabtu, 07 Mei 2016

Ridhomu adalah ridho-Nya

Kebahagiaan seorang anak adalah puncak kebahagiaan orang tua. 

Hal itu mengingatkan kita semua akan pentingnya hidup berdampingan, hidup bersama orang lain. Saling membahagiakan, bukan malah saling merenggutnya. Yang sering terjadi justru berlomba mencari kebahagiaan dengan jalan merampas, merampas kebahagiaan orang lain. 

Kebahagiaan seringkali membuat kabur antara hitam ataupun putih. Mengaburkan yang seharusnya atau yang tidak semestinya. Hitam-putih kemudian menjadi filter dalam upaya menuju kebahagiaan yang abadi. Etika juga tak boleh luput darinya. 

Memandang kebahagiaan dengan sebelah mata hanya akan membuat kita tersesat. Kita harus memandangnya dengan lebih komphrehensif. Tidak melihat sesuatu dalam sudut pandang yang kita inginkan saja. Tapi bagaimana kemudian kita memadukannya dengan hal lain yang terkait. Misalnya orang tua yang ingin bahagia, mereka harus memandangnya juga sebagai tanggung jawab. Tidak hanya tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya tapi juga sebagai tanggung jawab seorang hamba kepada Tuhannya. 

Kita yang merupakan hamba yang serba kekurangan ini tentu harus tau dari mana kehidupan kita berasal dan kembali suatu saat nanti. Semoga kita tetap menjadi manusia yang senantiasa diridhoi orang tua kita. Tanpa itu mungkin kita hanya menjadi manusia yang dimurkai Tuhannya. 

Senin, 02 Mei 2016

Komitmen ini begitu kuat, begitu juga keinginan ini. Entah sudah berapa kali keduanya saling menikam. Untuk saat ini yang pertama begitu dominan. Bukan soal benar-salah lagi, keyakinan ini begitu mendominasi. Benar dan salah hanya soal persepsi, tapi hati-lah yang kemudian mengarahkannya.

Ada ribuan pertanyaan dan pernyataan yang selalu muncul, yang lantas tak bisa dituangkan dalam bentuk kata. Sebuah kata hanya mewakili sebagian, tidak benar-benar bisa menjelaskan. Waktulah yang terkadang bisa menjelaskan dengan gamblang apa yang terjadi dan bagaimana seharusnya. 

Entahlah semuanya pasti akan terjadi, dan seharusnya begitu. Waktu tak akan melewatkannya begitu saja. Pada saatnya nanti semua akan terjawab tanpa harus mencarinya.